Gigip Andreas

i dunno man, im not even sure wut im doin here but welcum to ma site

Gigip Andreas

Tulisan Terbaru

Tampilkan lainnya →

Kompilasi

Tampilkan lainnya →

Kumcer Vol 1

Jalan-Jalan ke Bulan

Jalan-Jalan ke Bulan

Hari ini bunda janji membawaku pergi ke bulan. Aku senang tapi sedikit gugup karena sudah lama tidak jalan-jalan. Tapi aku jadi tidak sabar untuk naik Gerbong Terbang.

Jangan Dulu Tenggelam

Jangan Dulu Tenggelam

Dunia ini harusnya berterima kasih pada orang-orang yang tidak normal, kata Nenek sekali waktu. Sebab hanya orang-orang yang berbeda yang bisa mengubah dunia. Orang-orang biasa tidak mengubah apa pun.

Bakat Berbohong

Bakat Berbohong

Sering aku berpikir, hal terbaik yang pernah kurasakan dalam hidupku adalah jatuh cinta kepadanya. Hal buruknya, dia tidak mencintaiku. Kabar baiknya, kami tidak pernah bersama. Berita buruknya, tadi aku berbohong.

Tampilkan lainnya →

Ulasan

Elsa di “Jalan-Jalan ke Bulan” adalah anak yang well-aged, diceritakan sesuai porsi umurnya dengan dialog yang tidak mengada-ada seperti anak kecil yang dipaksa dewasa. Dan Mika! Fantastis! Salah satu cerpen yang membuatku menangis dan harus makan permen karet dua biji setelahnya.


Ada tiga hal yang bisa jadi blurb: imajinasi, dongeng, dan anak-anak. Kalau kumcer ini dibikin buku, kata kuncinya tiga itu.


Kamu punya sisi brutal yang idealis, cerdas saat memilih kata, licik dalam memainkan emosi, dan mendayu-dayu saat sendu. Tiap sisi muncul di cerpen yang berlainan. Kumcermu jadi heterogen dan enggak gitu-gitu aja. Tulisanmu luas dan berwawasan.


Mayang Dwinta

Jujur, awal membaca narasi cerpen ini, dalam hati aku bergumam, Ini Gigip nulis sambil neguk amer? Ngaco banget naratornya. Namun, makin aku gulir layar ponsel, kenapa aku makin pengin tahu sejauh apa Gigip “mabuk”?


Lagi dan lagi, aku harus memberi tepuk tangan untuk plot twist yang dia berikan. Sisi imajinatif yang Gigip berikan sangat menyenangkan. Cara bertutur narator yang “setengah gila” membuat aku semangat untuk menggulir layar ponsel.


Di sisi lain, Gigip mengungkap pula bagaimana menulis yang fiksi itu memusingkan. Menulis itu buah pikir panjang. Menulis itu menambah masalah. Jadi, kalau mau mengurangi masalah jangan menulis.


Nur Halipah