Tidak Setiap Berarti Selalu

Gigip AndreasGigip Andreas / Tukar Pikiran · 14 menit dibaca

Benda ini disebut Kereta Waktu. Ia akan parkir di dekat jendela kamarmu dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan. Sopirnya, seorang lelaki tua berambut putih yang berusia tak terhingga, disebut Kakek Masinis. Kakek Masinis sangat senang menghampiri orang-orang yang punya banyak pikiran dan pertanyaan di kepalanya. Ia tahu orang-orang seperti itu. Dan jika kamu terpilih, ini yang akan ia katakan:

“Kereta ini akan membawamu jalan-jalan melintasi waktu, tapi hanya bisa ke masa lalu. Satu hari di duniamu setara seribu tahun di kereta. Dan kami hanya mampir sekali seumur hidup. Jika kau mau ikut, sekaranglah waktunya.”

Waktu itu saya ikut karena saya pikir ia serupa mesin waktu. Meski secara teknis benar, cara kerjanya tidak persis seperti yang saya pikirkan. Apa yang ia maksud “bisa ke masa lalu” adalah menampilkan memori masa lalu dari kaca jendela. Jadi saya memanggil memori di kepala, membayangkannya, dan ingatan itu akan menjadi pemandangan di luar.

Saya sudah menghabiskan 3.000 tahun di Kereta Waktu. Saya mengunjungi kepingan-kepingan masa lalu saya dengan perasaan yang tak menentu. Kadang ada rasa bahagia karena bisa mengingat betapa saya sangat percaya diri pada masa lalu, kadang juga timbul penyesalan saat terpaksa melihat hal-hal yang kini hilang. Saya melewati semua itu sampai-sampai perasaan saya menjadi hambar dan membuat saya enggan turun. Saya tidak ingin berjalan lagi.

Hingga satu waktu, seorang gadis naik dan entah kenapa ia tampak mencolok di antara penumpang lain. Saya menyapanya karena penasaran. Namanya Sovia Ranti. Kami berbincang beberapa tahun, sangat acak, tapi dari keacakan itulah saya jadi tahu gadis ini punya sesuatu yang menarik. Jadi di tengah-tengah ia bercerita, saya memotongnya berbicara dan saya bilang, “Tunggu, boleh saya ikut melihat beberapa memorimu?”

Dan ia mengangguk.


Siapa dirimu, sebelum mereka mematahkan hatimu? Seperti apa masa kecil Sovia?

Haduuuh, pertanyaan di awal sudah berat ya. Di waktu yang bersamaan pertanyaan ini juga menarik, karena semua orang begitu mahir sepertinya jika disuruh menjelaskan tentang orang lain, tapi mendadak gagap jika tiba-tiba menjelaskan diri sendiri. Berlaku untuk saya.

Jadi siapa saya sebelum mereka mematahkan hati saya? Hahaha, saya bingung sih sebenarnya, karena saya jarang memikirkan seperti apa saya dulunya dan apa saja yang saya buang sampai saya bisa sedewasa sekarang. Mungkin kalau lebih jujur, saya dulu tipe gadis naif kayaknya, memandang dunia sebagai cup cake dengan beragam pilihan rasa. Saya suka bermimpi jadi ini, jadi itu. Tergantung apa yang lagi trend saat itu.

Kemudian soal masa kecil, kayaknya terlalu banyak momen deh sehingga enggak semuanya bisa digali. Sepertinya masa kecil saya bisa dibilang normal. Pergi sekolah, main sama teman-teman di ladang, kadang kami menangkap belalang, kadang kami mencari buah yang lagi musim. Jadi, sebenarnya masa kecil yang seperti apa yang ingin kamu tanyain?

Gadis naif. Apa salah satu momen terbesar yang mendewasakanmu? Sesuatu yang membuatmu berpikir ternyata dunia tidak seperti yang kamu bayangkan.

Kayaknya, momen yang paling nampar saya banget itu waktu umur 16 menuju 17 tahun deh. Ketika saya mutusin gap year, enggak mau kuliah. Bapak sama ibu mutusin pisah. Terus tiba-tiba semuanya jadi serbasulit. Satu-satunya yang menyadarkan saya itu omongan Tere Liye, di dalam novelnya yang berjudul Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Kurang lebih kata-katanya begini:

Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Tidak peduli.

Di momen itu saya baru mikir, oh jadi hidup memang gini.

[Kutipan Tere Liye di atas sebetulnya berasal dari novelnya yang lain, Rindu.]

Banyak yang percaya, anak perempuan cenderung akrab ke ayah dan anak laki-laki ke ibu. Bagaimana denganmu?

Kayaknya ini enggak berlaku buat saya deh, karena saya enggak dekat sama dua-duanya. Saya lebih terbuka sama teman dekat deh kayaknya. Tapi, di kasus saya, saya paham sih kenapa saya bertingkah begini. Karena kedua orang tua saya enggak menciptakan komunikasi dua arah di dalam rumah, cuma ada aturan dan kami sebagai anak harus mematuhi, tanpa ada pertanyaan kenapa.

Kamu sendiri tipe yang seperti apa? Dekat ke ibu?

Sampai SMP saya lebih dekat ke ayah. Mulai SMK lebih dekat ke ibu. Dan sebaliknya, ayah saya mengajari saya banyak hal, melebihi apa yang saya harapkan. Dia juga yang mendidik saya untuk selalu bertanya kenapa. Soal komunikasi, apakah perlakuan orang tuamu banyak memengaruhi caramu bersosial dengan orang lain?

Yep, saya enggak ahli dalam mempertahankan opini secara lisan. Saya gampang tremor, meski itu dalam kelas debat sekalipun, which is itu udah di-setting. Dalam pikiran saya, apa yang saya lontarkan akan di-judge atau dianggap salah. Saya takut salah aja kayaknya. Saya juga enggak suka jadi pusat perhatian, dengan berdiri di depan berarti orang-orang menatap saya, kinda hate it.

Point lebihnya, saya gampang mendeskripsikan apa yang saya suka dan enggak suka lewat tulisan. Saya terbiasa nulis diary dari kelas 3 SD. Beberapa teman dekat bilang, saya ahli menyentuh hati mereka lewat tulisan. Meski saya enggak yakin.

Menurutmu, sosok ayah yang ideal itu seperti apa?

Hmmm.

Kalau bicara soal ayah, hal yang terlintas di benak saya, mungkin kami saling ngobrol sih, bertukar pendapat dari hal yang paling nyeleneh sampai topik paling serius yang buat kepala pusing. Mungkin saya suka yang begitu kayaknya, since saya tipe yang suka nanya banyak hal. Lagi, ayah yang tetap ngasih saya duit 20 ribu, 50 ribu, untuk jajan di warung.

Konon manusia cenderung menginginkan hal-hal yang tidak mereka miliki. Berangkat dari asumsi ini, menurutmu, kenapa orang tuamu ingin punya anak yang penurut tanpa sikap skeptis?

Duuh, saya jarang sih ngambil point of you sebagai orang tua.

Kenapa mereka pengin punya anak yang enggak banyak nanya ini itu, bisa jadi mereka enggak tahu jawabannya kali ya. Ya, semacam guru di sekolah yang enggak suka ditanya banyak hal. Orang dewasa pada zaman itu memang begitu kali. Saya benar-benar enggak tahu jawabannya apa.

Orang tua pun jarang mengambil sudut pandang anak. Dan, saya kira, ini juga terjadi pada lintas kalangan dan lintas komunitas. Makanya masih banyak yang salah paham dengan konsep kesetaraan gender, misalnya. Buatmu sendiri, apa, sih, kesetaraan gender itu?

Menurut saya pribadi, kenapa orang-orang sering miss soal konsep kesetaraan gender itu, karena mereka enggak benar-benar baca definisinya, ini dampak yang disayangkan dari media digital yang canggih. Mereka mungkin, terpapar banyak informasi, dari satu podcast ke podcast lain, dari satu video ke video lain. Tapi, sesudah menyimak video tersebut, apakah ada setelahnya kita cek definisi atau pendapat ahli lain soal topik tadi. Menurut saya, kebanyakan dari kita cuma takut FOMO, takut dibilang kudet, makanya kita jarang buat benar-benar mastiin apa yang kita tonton atau dengar itu benar apa enggak.

Terus soal pertanyaan apa sih kesetaraan gender menurut saya, yaitu kesetaraan berarti kita memperoleh hak yang sama entah itu pendidikan, pekerjaan, hukum, ruang aman untuk berekspresi sebagai manusia, tanpa memandang gender. Entah itu lelaki, perempuan, atau gender-gender lain yang diakui di luar sana.

Dengan kata lain orang-orang punya sumber favorit yang mereka yakini valid. Kalau begitu, apa yang bisa dilakukan orang-orang yang memperjuangkan kesetaraan gender agar menjadi sumber yang dilirik orang?

Saya agak skeptis sih soal ini. Hahaha. Karena bicara soal kesetaraan gender berarti siap merangkul mereka yang terpinggirkan, entah itu wanita lacur, lesbi, homo, dan lainnya. Masalahnya issue ini enggak biasa bagi masyarakat yang memegang erat moralitas agama, dindingnya tinggi. Baru baca naskah pembukaan aja, belum isi, sudah dilempari kulit pisang.

Jangankan mengajukan ruang kerja aman bagi PSK, soal kekerasan seksual aja yang jelas kejahatannya, tanpa memperdebatkan moralitas agama, susaaah. Muter-muter dulu. Bahkan soal kasus gang rape oleh pegawai Kemenkop UKM yang pernah viral dulu, sempat-sempatnya S2 dulu sebelum akhirnya 2023 ini kasusnya dilanjutkan lagi.

Mungkin ada masanya orang ngelirik kampanye begini, tapi bukan sekarang. Dan saya enggak bisa jawab gimana caranya sumbernya dilirik orang. Even, Maudy Ayunda yang ngomong kayaknya saya masih ragu sama hasilnya. Wkwk.

Sepakat. Tentang hak asasi, kita biasanya baru merasa itu penting ketika hak-hak kita diusik. Seorang laki-laki dari kelas menengah dan beragama mayoritas, misalnya, cenderung merasa tidak ada masalah di gender dan kebebasan berekspresi, jadi yang mereka persoalkan lebih ke arah finansial. Mundur sedikit, saya mengenalmu sebagai bloger yang agak malu-malu bersosial. Apa arti blog buatmu dan apa tujuanmu menulis di sana?

Kalau diingat lagi, kayaknya tujuan saya ngeblog itu berubah-ubah deh. Tahun 2015 seingat saya, adalah pertama kali saya buat blog, tapi enggak terlalu ngerti gimana cara mainnya. Setelah itu saya buat lagi di tahun 2019. Tujuannya biar saya belajar gimana nulis konten dalam bahasa Inggris. Post pertama itu soal spontaneous human combution, hahaha. Otak saya agak horor emang, tapi saat itu saya penasaran sama kasus manusia meledak secara tiba-tiba itu.

Perlahan, niat saya berubah, mau menjadikan itu sebagai wadah buat saya nulis banyak hal aja. Saya kaget dulu waktu dapat komentar pertama, dalam kepala saya “kok bisa dia nyampe sini”. Setelahnya saya tahu, hal itu karena komentar yang saya tinggalkan. Sebenarnya saya tidak malu bersosial, tapi saya enggak pernah pede sama apa yang saya tulis. Karena semuanya cuma hal-hal sepele dalam keseharian saya, sesekali nulis topik tentang perempuan.

Sekarang mungkin blog itu fungsinya lebih ke arsip sih. Saya berharap, blog akan tetap awet sampai masa-masa mendatang. Sehingga, di umur 40-an nanti, saya bisa baca lagi tulisan itu, untuk tahu seberapa alay saya dulu dan sejauh mana karakter saya berkembang.

Seperti saya yang suka baca diary lama dan saya tahu perubahan diri saya yang dulu dan sekarang. Saya juga suka menulis surat untuk diri saya di masa depan. Dulu saya nulis surat tahun 2018 untuk diri saya di tahun 2022. Kemarin ketika baca isi suratnya, saya ketawa guling-guling, karena absurd hahaha. Di sana saya tahu ternyata dulu saya sepolos itu.

Ngomongin tentang surat untuk diri sendiri di masa depan, kamu pernah enggak ngelakuin hal ini? Kalau belum cobain deh, seru lho.

Menulis surat untuk masa depan belum, tapi untuk masa lalu pernah, dua atau tiga kali. Kapan-kapan mungkin bakal coba untuk ke masa depan. Jadi, blogmu lebih ke media untuk berdialog dengan diri sendiri ya. Saya penasaran, seberapa bising kepalamu? Seberapa sering hampir meledak karena terlalu banyak berpikir?

Hahaha, bisa jadi sih. Salah satu tag di blog saya itu Monologue alias ngomong sendiri.

Saya enggak bisa jawab persisnya seberapa bising kepala saya, karena saya enggak pernah dengar suara dari kepala orang lain sebagai perbandingan. Saya juga penasaran seberapa bising kepala orang. Kepala saya rame kayaknya karena sering mempertanyakan sesuatu yang katanya enggak penting.

Waktu lihat orang nangis saya pernah mikir gini, kenapa jarang ada konten tentang mereka yang nangis, sedangkan dalam momen bahagia orang sering bikin dokumentasi soal itu diiringi pilihan lagu-lagu favorit mereka. Maksudnya bukan nangis karena bahagia, tapi nangis karena capek sama hidup, atau nangis karena sesak aja gitu. 

Kenapa ketika dewasa kalau mau nangis kita pilih-pilih tempat, kalau bisa di tempat yang paling privat. Kenapa ketika kita dimarahin atasan, kita lansung aja gitu nangis setelah keluar ruangan menuju kubikel, terus enggak ada yang peduli karena itu manusiawi aja, sebagaimana dulu orang sekitar maklum dan nggak nge-judge kita nangis waktu masih bocah.

Padahal porsinya sama aja kayaknya, ketika kecil kita langsung nangis karena sedih, saat dewasa kita harusnya juga enggak apa-apa lansung nangis kalau sedih. Kalau misalkan memang bising kenapa enggak diciptakan ruangan menangis.

Sumpah, setelah nulis ini semua tiba-tiba saya mikir ini tuh enggak penting. Pemikiran kayak gini yang membuat saya sering memutuskan untuk enggak menulis sesuatu.

Menarik. Saya jadi ikutan mikir kenapa Ziggy Zezsya memberi porsi yang cukup banyak tentang menangis di Kita Pergi Hari Ini. Kamu suka baca fiksi? Cerita-cerita seperti apa yang kamu gemari?

Jujur saya paling enggak tahu kalau ditanya suka baca buku jenis apa. Karena kayaknya saya baca semua deh. Ketika selesai membaca menurut saya bagus aja semua, kalau misalkan terlalu berat saya sisain di lain hari.

Ketika kamu bicara soal Adam Smith kemarin saya penasaran dan nyari buku soal esai Adam Smith, meski enggak kelar haha. Tapi kalau buku yang berkesan buat saya tahun 2022 lalu, kayaknya novel Siri deh, karya Asmayani Kusrini.

Gara-gara novel ini, saya jadi punya pertanyaan sama orang yang sudah nikah selama 40 sampai 50 tahun. Apa itu makna pernikahan bagi mereka, karena saya perhatikan di usia pernikahan selama itu kayaknya kebanyakan orang mulai take thing for granted deh, mereka enggak tahu aja mendeskripsikan apa itu pernikahan secara romantis di tahun-tahun awal dulu. Seperti bernapas, kita mulai terbiasa aja menghirup oksigen tanpa repot-repot mikirin arti dari kita bisa napas hari ini. Kalau kamu belum baca, coba baca deh, mana tahu kamu suka.

Giliran saya, ketika baca tulisanmu dulu, saya juga penasaran buku-buku apa yang kamu baca, sampai bisa nulis keren kayak gitu. Jadi, buku-buku macam apa yang kamu suka?

Kamu pintar bikin jari orang gemetar. Oke, Asmayani Kusrini saya tambah ke daftar baca. Saya suka banyak hal, tapi kalau fiksi lebih suka dunia sihir daripada perang galaksi. Mungkin faktor masa kecil, sering diceritakan kisah nabi, jadi lebih akrab dengan hal gaib daripada alien.

Kalau nonfiksi, saya baca apa pun yang saya ingin tahu dan seringnya di luar rencana. Misal, niat awal mau cari tahu kenapa biawak lebih mirip ular daripada kadal, akhirnya jadi merembet baca hewan-hewan di hutan Amazon, suku pedalaman Amazon, lalu jadi penasaran dengan suku pedalaman Indonesia. Atau niat awal mau cari tahu kenapa pusat Katolik ada di Vatikan, akhirnya jadi merembet baca sejarah relasi umat Islam dengan Nazi pada masa Perang Dunia. Isi kepala saya memang acak.

Albert Camus pernah nulis, katanya, di usia muda itu kita hanya saling menggembirakan, setelah tua barulah saling mencintai. Menurutmu sendiri, apa makna pernikahan?

Haduuh, jangan tanya saya hahaha. Saya bukan tipe orang yang percaya hal begituan.

Dulu, kayaknya kalau ditanya apa itu pernikahan, saya bakal jawab nikah itu cuma soal bom waktu, tinggal tunggu meledak aja, entah itu 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun. Beberapa orang bisa saja mendeskripsikan pernikahan A, B, C, D, tapi saya selalu curiga jangan-jangan behind that close door, bomnya udah meledak, kita enggak tahu aja. Saya terlalu skeptis memang.

Lagian, pernikahan itu enggak bisa dijelaskan, sama absurdnya kayak hidup, definisinya tak terhingga, tergantung siapa yang menjalaninya.

Diplomatis ya. Kalau gitu, apa ketakutan terbesarmu?

Gimana ya, saya enggak percaya ada orang yang benar-benar bisa nerima orang lain secara keseluruhan. Maksudnya, yang bisa nerima hal buruk dan yang paling burik dari diri kita. Mungkin karena terbiasa sendiri ya, jadi sugesti dalam kepala saya, orang yang tulus sama diri saya di dunia ini ya, cuma diri saya sendiri. Selebihnya jika ada yang berusaha meyakinkan kalau sebenarnya dunia enggak seburuk itu kalau saya mau membuka diri, cuma terdengar kayak omong kosong. Kayak teori Humankind-nya si Rutger Bregman, di mana dia bilang human is the scariest creature on the planet itu cuma nocebo effect kita, karena sudah dipapari berita kejahatan manusia setiap harinya. Padahal sebenarnya human itu baik, katanya.

Saya kayaknya belum pernah benar-benar jatuh cinta deh.

Giliran kamu. Kamu pernah enggak ngerasain momen di mana kamu ngerasa "oh aku jatuh cinta nih" gitu. Pernah enggak? Terus soal pernikahan, makna pernikahan versi kamu apa?

Merasa dan berpikir saya jatuh cinta, pernah. Makna pernikahan buat saya? Untuk punya teman hidup yang saya bisa berbagi semua hal. Saya kira saya butuh satu orang yang bisa saya jadikan tempat untuk saling dalam hampir segala hal. Oke, kuis acak. Jika kamu diberi kesempatan untuk lahir kembali di keluarga yang lain dan bebas pilih negara, kamu mau lahir di negara mana?

Kalau boleh jujur saya lebih suka si ibunya keguguran deh, terus jadinya saya enggak lahir. 

Tapi, kalau memang harus dijawab, saya bakal milih lahir di Hungaria deh kayaknya. Katanya biaya hidup di sana murah.

Saya suka selera humor Anda. Tiga kata yang paling kamu suka dari bahasa Indonesia?

Pendar, tumbuh, samudra.

3.000 tahun lalu, kali pertama saya naik kereta ini, Kakek Masinis bilang kereta ini hanya lewat satu kali seumur hidup dan, sekali kita turun, kita tidak bisa naik lagi. Mendengar jawaban-jawabanmu, saya jadi ingin berkelana lebih jauh ke dunia yang lebih asing. Jadi saya mau turun di depan. Pertanyaan terakhir, bagaimana caramu berdamai dengan perpisahan?

Hmmm.

Cara berdamai dengan perpisahan itu, mungkin sama seperti kita membalik buku ke halaman berikutnya, segimana pun seru atau sedihnya cerita di lembaran ini, tetap lembar-lembar berikutnya lebih mendekatkan kita pada akhir atau jawaban yang kita cari. Kalau kata Paulo jika kita brave enough untuk bilang good bye, hidup bakal ngasih reward dengan new hello.