Cara Berpikir untuk Diri Sendiri

atau Cara Menemukan Hal-Hal yang Membuatmu Bahagia

Gigip AndreasGigip Andreas / Esai · 11 menit dibaca

Satu waktu adik saya bertanya tentang mana yang lebih baik antara menjadi seorang generalis atau spesialis. Dengan cepat saya memberi jawaban sekenanya, tapi sesaat kemudian saya baru menyadari bahwa dalam konteks obrolan kami, sepertinya pertanyaan yang lebih relevan bukanlah mana yang lebih baik antara generalis atau spesialis, melainkan “apakah saya tipe pemikir mandiri atau konvensional?”

Itu lebih relevan karena setelah bekerja di beberapa bidang dan menyimak cerita orang yang bekerja di bidang lain, saya mengamati ada beberapa jenis pekerjaan yang menuntut kita berpikir berbeda dari rekan-rekan kita. Tidak selalu berarti progresif, hanya saja berbeda dari yang umum.

Misalnya, jika kamu esais, kamu tidak cukup dengan hanya menjadi benar. Materimu harus benar dan baru. Esai yang memberi tahu orang-orang tentang hal-hal yang sudah mereka tahu akan membosankan; kamu harus mengatakan sesuatu yang segar, atau minimal tulisanmu dikemas dengan sudut pandang yang lain.

Hal yang sama berlaku untuk pesulap. Tidaklah cukup bagi seorang pesulap untuk memainkan permainan yang sudah dimainkan pesulap lain. Jika semua pesulap bermain mainan yang sama, penonton sudah tahu letak hiburannya, jadi tidak ada ruang untuk tipuan. Orang ingin dihibur dengan tipuan yang belum pernah mereka lihat.

Tuntutan ini juga muncul bagi pendiri startup. Mereka tidak memulai dengan membuat sesuatu yang sudah disepakati banyak orang sebagai ide bagus. Mereka punya tuntutan membuat terobosan. Mereka akan membuat sesuatu yang awalnya bagi kebanyakan orang terdengar seperti lelucon, tapi mereka tahu ide mereka potensial.

Namun faktanya, pola ini tidak universal. Itu bahkan tidak berlaku untuk sebagian besar pekerjaan. Untuk menjadi kasir, kurir, sopir, montir, barista, panitera, atau pelayan pom bensin, kamu tidak perlu memikirkan cara-cara baru. Yang harus kamu lakukan hanya bekerja dengan benar, tidak penting apakah orang lain salah.

Tentu ada sedikit ruang untuk kebaruan di sebagian besar pekerjaan (seperti barista yang harus membuat gambar baru karena pelanggan sudah bosan dengan motif bunga), tapi secara umum kamu akan lebih mudah berhasil di pekerjaan-pekerjaan ini selama mengikuti prosedur. Bukan berarti menjadi kasir atau pelayan pom bensin itu mudah (jelas ada tantangan dan keterampilan yang perlu diasah), tapi selama kamu melakukan pekerjaanmu dengan benar, bahkan tanpa perlu berpikir berbeda, kecil kemungkinan kamu akan gagal menjadi kasir, kurir, sopir, montir, barista, panitera, atau pelayan pom bensin.

Intinya, ada perbedaan yang cukup tajam antara jenis pekerjaan yang membutuhkan pemikiran berbeda dan pekerjaan yang tidak. Dan saya berharap seseorang memberi tahu saya tentang ini sejak saya duduk di bangku SMK, karena ini salah satu hal terpenting untuk dipikirkan ketika kita memutuskan jenis pekerjaan yang kita inginkan.

Masalahnya di sini adalah cara kita berpikir (mandiri atau konvensional) sepertinya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor X saat kita masih anak-anak. Artinya ketika kita tumbuh remaja dan kemudian dewasa, akan kian sulit bagi kita untuk mengubah kebiasaan cara berpikir. Yang dengan kata lain, jika kamu secara alami berpikiran mandiri, kamu mungkin akan mudah merasa bosan atau sering jengkel ketika melakukan pekerjaan yang berpola dan bisa diprediksi. Pun sebaliknya, jika kamu berpikiran konvensional, kamu akan frustrasi saat mencoba melakukan penelitian orisinal.

Nah, untuk memperumit masalah, mari akui bahwa kita kerap kesulitan mengidentifikasi diri kita apakah kita jenis pemikir mandiri atau konvensional. Karena bagaimanapun, orang yang berpikiran konvensional tidak suka menganggap diri mereka berpikiran konvensional—bagi mereka itu terasa seperti mereka mengambil keputusan mandiri tentang segala hal. Di sisi yang lain, orang yang berpikiran mandiri sering tidak menyadari betapa berbedanya pikiran mereka dari pikiran umum, paling tidak sampai mereka mengatakannya ke banyak orang.

Dan ya, ada alasan untuk itu. Sebagian besar dari kita secara kasar tahu seberapa pintar kita (dalam hal kemampuan memecahkan masalah), karena sejak di sekolah kita dididik dan diberi peringkat berdasarkan itu. Tapi pada saat yang sama, sistem di kebanyakan sekolah cenderung mendorong cara berpikir konvensional dan mengabaikan pemikiran mandiri. Jadi kita tidak punya ukuran tentang seberapa mandiri diri kita, yang pada akhirnya sangat mudah untuk terjebak dalam bias kognitif: orang paling berpikiran konvensional bisa merasa mandiri dan yang benar-benar mandiri khawatir bahwa mereka tidak cukup mandiri.


Terlepas dari semua hal di atas, bisakah kita membuat diri kita menjadi lebih mandiri? Saya pikir iya. Meskipun kualitas ini banyak dipengaruhi oleh masa kanak-kanak (dan tampaknya sukar diubah seiring bertambah usia), saya kira masih ada cara untuk menumbuhkannya, atau minimal untuk tidak membunuhnya.

Pertama, yang paling efektif adalah apa yang dilakukan secara tidak sengaja oleh sebagian besar kutu buku: tidak terikat dengan kepercayaan konvensional. Karena para kutu buku sering melahap hampir apa pun, secara alami kepala mereka akan dipenuhi hal-hal yang saling berlawanan. Itu akan membuat mereka sulit untuk menjadi konvensional karena mereka tidak tahu harus mengikuti konvensi yang mana. Sementara orang yang berpikiran konvensional mungkin akan merasa cemas ketika tidak mengetahui apa yang diketahui orang lain (FOMO), para kutu buku cenderung tahu apa yang ingin mereka ketahui tanpa peduli konvensi.

Jadi sangat penting untuk memilih dengan siapa kamu mengelilingi dirimu. Jika kamu dikelilingi oleh orang-orang berpikiran konvensional, itu akan membatasi ide apa yang bisa kamu ungkapkan, dan pada akhirnya ide mana yang bisa kamu miliki. Namun ketika kamu dikelilingi orang-orang berpikiran mandiri, yang terjadi adalah sebaliknya: kamu akan lebih banyak mendengar hal-hal yang mengejutkan dan mendorongmu untuk berpikir lebih jauh.

Pertanyaannya, bagaimana kita tahu bahwa kita berpikiran mandiri dan sudah terlalu banyak dikelilingi orang-orang berpikiran konvensional? Tanda yang paling mudah: orang yang berpikiran mandiri cenderung tidak nyaman dikelilingi orang-orang berpikiran konvensional, dan cenderung memilih memisahkan diri ketika ada kesempatan. Nah, masalah dengan sekolah menengah adalah sangat jarang memberi ruang untuk kesempatan itu. Sekolah adalah dunia kecil yang lebih suka mendorong siswa menjadi konvensional. Jadi saat kamu berada dalam situasi yang membuatmu berpikir “sial, ini terasa seperti di sekolah”, mungkin itu sinyal bahwa kamu berpikiran mandiri dan kamu harus keluar.

Kedua, dengan mengambil tindakan yang lebih eksplisit untuk tidak mengadopsi opini konvensional secara otomatis. Dalam hal ini artinya mengembangkan sikap skeptis. Ketika seseorang mengatakan sesuatu, cobalah untuk tidak langsung menelannya. Alih-alih, berhenti sejenak dan tanyakan “apakah itu benar?” tapi tanyakan dalam hati, tidak perlu diucapkan, jangan membebani setiap orang untuk membuktikan apa yang mereka katakan. Kamulah yang harus mengambil beban itu untuk mengevaluasi hal-hal yang kamu dengar.

Anggap saja seperti kuis. Misalnya kamu sedang mendiskusikan ide dengan temanmu. Kamu tahu tidak semua hal yang kamu dengar akan menjadi benar, tugasmu adalah menebak yang mana. Tujuannya bukan untuk menemukan kekurangan dari cerita temanmu, melainkan menemukan ide-ide baru yang lebih baik yang tersembunyi di balik ide-ide konvensional. Atau dalam konteks obrolan sehari-hari, anggap saja ini semacam permainan pencarian sudut pandang yang menyenangkan.

Cobalah perhatikan mode. Ada momen-momen ketika kamu akan melihat beberapa orang mengenakan sweter yang seragam, lalu lama-lama semakin banyak sampai orang-orang di sekitarmu turut memakai sweter yang sama. Kamu mungkin tidak peduli fesyen, tapi pola ini juga ada di intelektual. Saya tidak tahu istilah yang tepat untuk ini tapi “hegemoni budaya” sepertinya cukup mendekati: sesuatu yang disepakati benar oleh banyak orang hanya karena orang-orang melakukannya, tak peduli apakah itu valid atau tidak. Contohnya keyakinan “Instagram buat pamer” atau “perempuan yang menjadi selingkuhan adalah pelakor”. (Jika kamu mau skeptis, sebutan pelakor mengandung oksimoron yang parah dan mengaburkan relasi kuasa antarpelaku.)

Ketiga, teliti terhadap kebenaran. Ini bukan sekadar tidak memercayai hal-hal yang salah, lebih dari itu, ini berarti selalu bersikap waspada tentang kepercayaan. Bagi orang-orang konvensional akut, kepercayaan adalah “yang tidak mungkin menjadi mungkin dan yang mungkin menjadi pasti”. Sebagai orang rata-rata kita mungkin masih memiliki filter, tapi tanpa teliti terhadap kebenaran, kita hanya akan menolak hal-hal konvensional dan menggantinya dengan teori konspirasi atau apa pun yang terdengar masuk akal.

Perilaku itu sangat mudah dilihat di para ekstremis politik dan pembela fanatik. Mereka sering menganggap diri mereka berpikiran berbeda dari orang rata-rata, tapi sebenarnya pikiran mereka lebih banyak dipengaruhi oleh rekan-rekannya sendiri dibanding orang rata-rata secara umum. Yang pada akhirnya membuat mereka hidup dalam ruang gema masing-masing. Dan iya, ini berlaku dalam hal apa pun, termasuk di bidang yang seharusnya haus akan inovasi seperti teknologi, dan bahkan banyak juga kutu buku yang terjebak di sini.

Keempat, tetap menjaga rasa ingin tahu. Orang-orang yang berpikiran mandiri biasanya selalu penasaran, sebagaimana orang-orang berpikiran konvensional biasanya tidak. Kecuali, ajaibnya, anak-anak. Entah kenapa semua anak kecil punya rasa ingin tahu yang tinggi. Mungkin karena orang paling konvensional pun harus penasaran dulu untuk mengenali konvensi. Bedanya dengan yang berpikiran mandiri, mereka tetap lapar setelah kenyang.

Bisakah kita meningkatkan rasa ingin tahu? Berdasarkan pengalaman saya, bisa. Cara yang cukup efektif yang saya tahu adalah menghindari situasi yang menekannya. Misalnya, berapa banyak pengaruh dari pekerjaanmu saat ini terhadap rasa ingin tahumu? Jika jawabannya tidak banyak, kamu bisa mulai mencari hobi baru atau melakukan kegiatan lain yang memicu rasa ingin tahumu.

Yang menarik adalah keempat cara di atas saling berhubungan. Dengan melahap banyak hal sambil bersikap skeptis serta selalu teliti terhadap kebenaran, kita akan memiliki ruang kosong yang menyisakan tanda tanya di kepala. Dan dengan memiliki rasa ingin tahu, kita bisa mengisi ruang itu. Tapi jika kamu hanya suka membaca tanpa punya rasa ragu, kamu mungkin akan menjadi penulis berita yang gemar mengambil sumber dari Trending Topic di Twitter tanpa merasa perlu melakukan validasi.


Di awal tulisan saya sempat bilang pembahasan ini lebih relevan daripada generalis dan spesialis. Ini alasannya:

Menjadi spesialis berarti menguasai 80% keterampilan dalam satu hal di satu bidang. Kamu mendedikasikan waktu untuk menjadi hebat dalam bidang itu, dan mengabaikan hal lainnya. Menjadi generalis adalah menguasai 25% keterampilan dalam empat hal berbeda di bidang yang juga berbeda, dan kamu meluangkan waktu untuk masing-masing topik.

Mana yang lebih baik?

Saya tidak tahu.

Beberapa perusahaan hanya menyewa spesialis. Untuk perusahaan sebesar Apple atau Google, agak tidak masuk akal jika mereka mempekerjakan generalis, menurut saya. Karena mereka punya ruang untuk membangun tim untuk memecahkan masalah yang spesifik. Sementara untuk perusahaan rintisan tahap awal biasanya lebih suka mencari generalis, karena mereka harus bisa bergerak cepat dan fleksibel.

Tapi tidak penting apakah kamu generalis atau spesialis, suatu waktu kamu akan berhadapan dengan pekerjaan yang membuatmu merasa tidak bergairah. Kamu bisa menjadi generalis yang menyukai desain dan pemrograman, atau spesialis yang sangat menguasai Linux, dan satu titik tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangmu. Saya lulusan kejuruan Analisis Kimia tapi pernah bekerja di peternakan sapi, dengan pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan kimia.

Sapi jelas bukan bidang saya. Dan meski saya generalis, yang berarti saya juga bisa mempelajari hal-hal tentang sapi (dan ya, saya mempelajarinya), saya tetap tidak menemukan momen “aha” di sana. Dulu saya kira karena saya bukan spesialis sapi. Tapi setelah lebih memahami diri sendiri, saya mengerti bahwa penyebabnya adalah karena saya kurang nyaman mengerjakan hal-hal yang berulang dan stagnan. Karena meski saya introver dan kurang pandai bersosial, rupanya saya cukup menikmati masa ketika bekerja sebagai sales WiFi, karena setiap hari saya harus memikirkan cara-cara baru untuk berbincang dengan orang, pun cara-cara baru untuk mempermudah pekerjaan.

Orang sering bilang untuk bahagia di tempat kerja kita harus do what you love and love what you do, atau bekerja sesuai passion, tapi itu agak susah diraih karena tidak semua orang punya kesempatan untuk pilih-pilih pekerjaan, dan kerap kali apa yang disebut dengan passion tidaklah jelas. Yang menurut saya lebih masuk akal adalah menyortir bidang-bidang yang sesuai dengan cara berpikir kita, dan ambil apa pun yang ada karena cara kerjanya akan cocok dengan kita. Bahkan jika kita tidak terlalu menyukai pekerjaannya, itu akan sedikit lebih bergairah daripada bekerja di tempat yang tidak sesuai.

Atau katakanlah kita telanjur terjebak di pekerjaan yang tidak sesuai, kita bisa membuat proyek sampingan yang menumbuhkan gairah kita. Kuncinya adalah melakukan hal-hal yang sesuai dengan cara berpikir tadi, alih-alih asal memilih kegiatan hanya karena terlihat keren atau “kata orang sih menjanjikan” atau “kalau yang lain bisa, kamu juga pasti bisa”. Menurut saya kita tidak harus bisa semua hal, ada bidang-bidang tertentu yang sangat kita minati, ada yang menurut kita membosankan, jadi tidak apa-apa jika kita tidak berhasil di beberapa pekerjaan. Karena bagus kata orang belum tentu cocok dengan definisi bahagia buatmu.

Tapi sekali lagi, yang rumit dari perkara ini adalah kita kerap terjebak bias kognitif. Jadi cara terbaik untuk mulai mempraktikkan apa-apa yang ada di tulisan ini adalah dengan mengujinya secara langsung. Maksud saya, jangan langsung anggukkan kepala hanya karena kata-kata saya tampak masuk akal. Cobalah untuk ragu karena siapa tahu saya salah, keliru, atau bahkan berbohong.