Semusik, dan Semusik Lagi

Gigip AndreasGigip Andreas / Jurnal | 9 menit dibaca

Ada banyak penulis perempuan yang pada kali pertama aku membaca tulisannya, aku langsung tahu aku akan membaca tulisan-tulisan mereka yang lainnya. Biasanya karena gaya bercerita mereka menarik, atau mereka menulis sesuatu yang tidak bisa ditulis oleh penulis laki-laki.

Tetapi suatu hari kutemukan satu penulis yang berbeda. Bukan karena tulisannya bagus (tulisan dia sangat bagus, tetapi bukan itu faktornya), dan bukan pula karena dia menulis hal yang unik. Ini karena caranya bercerita dan sudut pandang yang diambil mengingatkanku pada seseorang.

Andina Dwifatma. Tulisan pertamanya yang kubaca adalah esai, membahas seputar film dan lelucon jorok. Setelah ku-follow akun Andina di Twitter, aku lanjut membaca tulisan-tulisannya yang lain yang ada di blog personalnya, dan sepanjang baca aku sibuk bertanya-tanya: “Kira-kira apa pendapatmu tentang hal ini dan bagaimana kamu akan membahasnya?”

Orang yang kumaksud kamu sudah lama berhenti menulis. Tulisan terakhirnya yang kubaca adalah surat yang ditulis tangan, sebuah surat yang menjawab beberapa pertanyaan sekaligus meninggalkan beberapa pertanyaan. Tipikal orang yang bikin gemas dan merepotkan.

Aku tidak keberatan dia berhenti menulis. Waktu dia bilang mau berhenti, aku malah mendukungnya karena kupikir memang itu yang terbaik untuknya. Kepadanya aku pernah bilang, “Aku enggak mau pacaran sama orang yang suka menulis. Aku enggak mau punya pacar yang enggak bahagia.”

Satu-satunya yang kusesali dari dia berhenti menulis adalah aku berhenti mengetahui isi kepalanya. Padahal dia mirip perpustakaan berjalan, dia adalah teman paling pintar yang selama ini kukenal—dan dia seorang sapiosexual. Jadi aku sangat kehilangan ketika dia berhenti.

Aku sering membaca ulang tulisan-tulisan Andina ketika rindu temanku. Ketika membacanya, aku sering membayangkan tulisan itu ditulis temanku. Tentu saja orang bisa sebal jika dimirip-miripkan (atau dibanding-bandingkan), tetapi apa boleh buat. Gaya menulis mereka memang sedikit mirip, dan kadang-kadang topik yang dibahas Andina juga topik diskusi yang sering kubahas dengan temanku (seks, konsep tuhan, cinta, keluarga).

Pembeda paling kentara di antara mereka cuma dua: temanku belum punya anak (dia pernah menikah, Andina masih), dan temanku lebih sering tidak sepakat dengan feminisme. Yang kedua adalah alasan utama kenapa aku menyukai esai pertama Andina yang kubaca. Aku penasaran apakah temanku akan sepakat atau justru malah tertawa terbahak-bahak.

Sebelum salah paham, temanku tidak punya masalah dengan feminisme. Dia bahkan mendukung gerakan itu. Hanya saja dia punya sudut pandang yang berbeda, dan dia bisa bikin lelucon jorok yang jauh lebih lucu daripada aku. Tetapi kami hanya tertawa di ruang privat karena kami sepakat hal-hal tabu juga boleh lucu, asal tahu tempat dan waktu.

Omong-omong, ini sering terjadi: aku baca tulisan seseorang di internet, menyukainya, dan baru tahu ternyata dia sudah punya buku. Bukan karena penulisnya tidak terkenal (aku menemukan Aan Mansyur dengan cara ini padahal akun Twitter-nya sudah centang biru), lebih karena aku memang tidak semaniak itu terhadap buku.

Andina kutemukan dengan cara yang sama. Aku baru tahu dia sudah menerbitkan novel, Semusim, dan Semusim Lagi, jadi kuputuskan untuk membacanya dengan alasan yang, lagi-lagi, rindu temanku. Itu buku yang menghibur. Aku tidak yakin tebakanku benar, tetapi kupikir temanku akan suka karena terutama dia menyukai detektif-detektifan dan narator yang lugu-lugu sarkastis seperti Neil Gaiman.

Bacaan dia agak acak sebenarnya. Dilihat dari buku-buku yang pernah dia ulas di blognya, kupikir dia jenis orang yang akan membaca apa pun yang ada di depannya. Tidak peduli penulisnya siapa, tidak peduli genrenya apa. Selain mengulas, dia juga sangat suka memberiku PR membaca buku-buku yang dari judulnya saja sudah bikin nyaliku rontok (kebanyakan nonfiksi berbau filsafat dan psikologi).

“Gip, aku boleh minta satu permintaan lagi?”

“Apa?”

“Baca Love in the Time of Cholera. Mungkin bukan jenis buku yang kamu suka tapi aku mau kamu baca itu.”

Aku mencobanya. Dan, jujur saja, aku tidak mengerti. Aku malah jadi teringat cerpen “Tiba-Tiba Aku Florentino Ariza” di buku Kukila. Sampai akhirnya kubaca ulang novel Gabo itu beberapa waktu lalu, dan kupikir aku mulai mengerti. Dan, entah kenapa, aku merasa ada kesedihan yang menyelimutiku.


Waktu pertama kali kenal, lewat blog, aku tidak pernah kepikiran akan berteman akrab dengan dia. Selama setahun saling kenal, aku cuma menganggap dia orang asing yang kebetulan sama-sama ngeblog dan suka saling berkomentar. Aku tidak tertarik mengobrol banyak hal dengan dia karena tulisan-tulisannya waktu itu terasa ngawur, opininya lebih mirip pameran referensi ketimbang opini, dan hal-hal yang dia bahas sering tidak kupahami. Aku biasanya hanya komentar saat dia bikin resensi.

Apa yang membuat kami berteman adalah cerita. Suatu malam dia mengirimiku surel dan meminta nomor WhatsApp. Saat itu dia sempat menutup blognya, menghapus semua akun media sosialnya, dan ada beberapa kabar miring tentang dia di lingkaran kecil kami. Ceritanya sangat panjang dan tidak penting untuk tulisan ini, intinya malam itu dia menghubungiku karena dia percaya aku bisa menjadi teman cerita.

Tidak jelas bagaimana awalnya, tiba-tiba kami jadi sering mengobrol dan aku mulai merasa dia tidak sengawur tulisannya. Dia ternyata orang yang asyik, punya pandangan yang luas, dan selera humornya sangat receh. Tetapi yang paling penting, dia membaca jauh lebih banyak daripada aku.

“Aku sempat mau belajar bahasa Mandarin,” katanya. “Kalau pertanyaanmu yang tadi, di buku ini jawabannya bahasa orang Yahudi.”

“Ibrani?”

“Ya. Omong-omong, kamu sepakat buku bisa mengubah dunia?”

Tentu saja kujawab tidak. Tetapi kubilang buku bisa mengubah orang, dan orang bisa mengubah dunia. Ada alasan kenapa orang-orang di Cina bisa membangun ulang peradaban mereka dengan cepat setelah tanahnya hancur pascaperang. Atau kenapa orang-orang zaman dahulu cenderung suka membakar perpustakaan. Atau kenapa negara-negara di Eropa sangat senang menerjemahkan berbagai buku dari belahan dunia.

“Kamu nonton The Garden of Words?” tanyaku.

“Nonton. Bagus, tapi aku lebih suka The Place Promised in Our Early Days. Kamu harus nonton.”

“Oke, nanti. Eh, kemarin aku baca-baca tulisan lamamu di blog. Mumpung blognya bisa diakses lagi.”

“HAHAHA. Ngapain. Terus, ada komentar? Mau, dong, dikritik Gigip Andreas.”

Kukatakan kepadanya semua hal yang ada di kepalaku. Tentang dia yang lebay memuja-muja novel Leila S. Chudori; tulisan-tulisan galau yang menurutku penuh komedi; lagu-lagu yang dia kutip seenak diri; puisi sumpah serapah untuk pengendara Avanza yang kusukai. Lalu obrolan mulai melebar ke mana-mana dan kami berbincang sampai pukul empat pagi.

Cerita berakhir di situ. Harusnya. Harusnya berakhir di situ, jadi setiap kali aku ingin kembali, aku hanya menemukan hal-hal yang menyenangkan. Tetapi cerita bukanlah awan yang suka menurut. Ia punya kehendaknya sendiri untuk mendadak mengubah cerah menjadi mendung.

“Aku mulai paham maksudmu, Gip. Aku hapus tulisan-tulisan lama karena setelah aku pikir-pikir lagi kamu ada benarnya.”

“Oh, ya? Padahal aku enggak suruh kamu hapus tulisan lama, lho. Aku cuma cerita kenapa aku hapus tulisan-tulisan lamaku.”

“Iya. Tapi aku merasakan hal yang sama, jadi aku hapus juga tulisan-tulisanku. Aku mau cerita.”

Nah, biasanya, kalau dia sudah bilang aku mau cerita, akan ada kisah-kisah menarik yang kudengar. Sayangnya hari itu meleset, dia menceritakan sesuatu yang rumit. Dia cerita ada seorang laki-laki yang menyatakan perasaan kepadanya. Dia ingin menolak, tetapi bingung apa yang harus dikatakan tanpa membuat laki-laki itu sakit hati.

Kujawab lebih baik bikin orang itu sakit hati. Daripada kamu menolak secara halus dan bikin dia mengira kamu cuma mengulur waktu, atau dia jadi berpikir kamu cuma ingin menguji ketahanannya, lebih baik kamu bikin dia sakit hati. Katakan semua yang ingin kamu katakan. Selebihnya urusan seberapa lapang dia mau terima.

Yang tidak kuduga, malah akulah yang akhirnya sakit hati. Dia menjelaskan beberapa konteks yang awalnya sulit kupahami, tetapi lambat laun mulai terdengar masuk akal. Dan, menyakitkan. Semacam perasaan yang timbul setelah membaca cerpen-cerpen Dea Anugrah.

Pagi itu setengah hariku habis hanya untuk melamun. Pikiranku melayang-layang merekam ulang semua hal yang pernah kami bicarakan. Sulit untuk tidak sepakat dengan Andina soal logika yang overrated.


Jauh sebelum ini, ketika aku mendengarkan “Sleepwalking” dari Bring Me The Horizon, aku selalu teringat kepadanya. Selain karena dia juga suka lagu itu, aku merasa liriknya indah dan kami menjalani hari-hari kami seperti lagu itu. Aku bahkan mencari padanannya di kamus dan kujadikan bio di Twitter: somnambulis.

Tetapi musim telah berganti. Aku sudah bangun dari tidur panjangku. Tahun lalu aku mendengar Dere menyanyikan “Kota”, dan entah kenapa, orang pertama yang terlintas di kepalaku adalah dia.

Dia menghilang. Nomornya ganti, blognya lenyap. Aku bisa saja mengiriminya surel seperti ketika dia mengirimiku surel, tetapi tidak pernah kulakukan. Kupikir dia memang sedang ingin menyendiri, dan aku takut ganggu. Jadi kubiarkan dia menghilang sementara aku mencari kesibukan.

Dia jadi sering gentayangan di kepalaku. Aku sering bertanya-tanya apakah kabarnya baik-baik saja? Apakah dia sudah membaca buku ini? Apa pendapat dia tentang film ini? Hei, aku sudah baca buku-buku yang kamu suruh dan aku punya pertanyaan! Ke mana aku harus melempar semua pertanyaan ini sekarang? Sial. Aku buntu!

Hari-hari berlalu.

Oh, aku tahu. Dia pasti baik-baik saja. Karena kalau dia tidak baik-baik saja, dia akan mengirimiku surel seperti waktu itu. Ya, dia pasti akan datang dan cerita. Dia belum datang sekarang karena dia sedang baik-baik saja. Masuk akal, ‘kan? Dia pasti sudah bahagia sekarang. Aku yakin itu. Aku hanya perlu menunggu sampai dia siap menceritakan perjalannya. Nanti dia akan datang. Dia akan datang, ‘kan?

Minggu-minggu berlalu.

Aku menemukan platform menulis baru. Aku bertemu orang-orang baru. Aku mulai mencoba membuat cerpen kolaborasi. Aku mulai mencoba menerima teman-teman baru. Tetapi setiap kali aku membaca atau mendengar atau menonton sebuah kisah yang mengingatkanku kepadanya, aku kembali murung. Teman-teman baruku selalu mengingatkanku cara melepaskan. Proyek pertama yang kami buat adalah menulis surat untuk masa lalu. Sepertinya aku harus melakukannya. Aku harus melepaskannya.

Bulan-bulan berlalu.

“Gimana kalau kita nulis fiksi bareng-bareng? Satu minggu dua orang,” kata seorang teman.

“Setuju. Saya mau. Kayaknya seru,” jawab teman yang lain.

“Temanya bebas, semuanya bebas, yang penting nulis fiksi. Nanti kita bedah bareng-bareng,” timpal teman yang lainnya.

Aku kebagian minggu kedua. Aku menulis empat hari sebelum deadline. Kuhabiskan setiap malam untuk menulis cerita itu. Aku menulisnya sambil membaca potongan-potongan puisi Melihat Api Bekerja. Aku menulisnya dengan penuh rasa marah. Kubiarkan diriku meledak berkali-kali di sana. Tulisan selesai beberapa jam sebelum deadline.

“Tulisanmu mana, Gip?”

“Ada. Mau mulai sekarang?”

“Iya. Apa judulnya?”

“Sampai Hari Ini Hujan Masih Air.”

Baru kusadari aku tidak pernah benar-benar melepaskannya. Aku malah mengubahnya menjadi cerita pendek. Aku malah membuatnya semakin hidup di kepalaku. Aku malah membunuh tahun-tahun diamku.

Suatu siang bulan dua pekan kedua, ibu memberi tahu aku mendapat sebuah paket. Disimpan di atas lemari, kata ibu. Kubawa paket itu ke kamar dan kudapatkan dua lembar surat ditulis tangan. Dari dia. Isinya permohonan maaf dan permintaan untuk merahasiakan cerita ini.

“Gigip, kuharap surat ini berhenti di kamu. Tidak usah cerita siapa-siapa kalau aku menghubungimu. Semoga kamu mengerti.”

Cerita berakhir di situ. Harusnya. Harusnya aku mengerti dan kubiarkan ceritanya berakhir di situ. Tetapi aku tidak pernah mengerti jadi kutulis cerita ini, dan cerita bukanlah awan yang suka menurut.

Gabung buletin

Dapatkan akses awal setiap ada tulisan baru