Haruskah Kita Mencintai Apa yang Kita Kerjakan?

Gigip AndreasGigip Andreas / Jurnal · 10 menit dibaca

“Gimana, sih, caranya jadi giat?” tanya Tsaqif, adikku, yang sekarang sedang semester awal kuliah, “cara jadi ulet, kayak Kakak, kan, autodidak. Bisa ini, bisa itu. Nah, gimana caranya? Apa kita harus suka dulu sama bidangnya?”

Pertanyaan menarik. Aku tahu maksud dari kata-katanya adalah “aku melihat teman-temanku punya keterampilan dan bisa dapat uang, dan aku masih bingung apa yang bisa aku lakukan”. Tipikal keresahan yang juga aku rasakan ketika masa-masa di sekolah. Mencari passion, kalau kata orang-orang idealis.

Sedikit konteks: sejak di SMK aku sudah mulai punya uang saku dari keterampilan yang kuasah, meskipun ritmenya memang tidak serutin orang-orang yang bekerja sebagai freelance (karena aku memang bukan). Sebagian besar uang sakuku datang dalam bentuk proyek sampingan, sisanya yang receh-receh dari “bantu teman atau kenalan yang punya masalah ini dan kebetulan aku bisa, dan aku bersedia”. Aku tidak menganggap itu bisnis karena bentuknya lebih mirip slogan komunisme: dari masing-masing sesuai kemampuannya untuk masing-masing sesuai kebutuhannya.

Pekan lalu salah satu proyek sampinganku menghasilkan lagi. Adikku tahu, dan kali ini uangnya lumayan, jadi mungkin itu menjadi salah satu pemicu rasa penasarannya. Bagaimana aku bisa mendapatkan uang di luar kerja? Bagaimana aku bisa sampai di bidang yang tepat? Butuh berapa kali mencari sampai aku bisa menemukan bidang yang aku cintai?


Jika kamu mengira cara terbaik untuk menjadi terampil adalah menunggu momen “kamu harus mencintai apa yang kamu kerjakan”, kamu mungkin kebanyakan baca dongeng motivasi dari mas-mas tukang main saham di LinkedIn, atau menghadiri seminar yang pembicaranya pendiri startup dan pengagum berat Steve Jobs, atau menonton video orang acak yang merasa dirinya inspiratif di TikTok.

Tidak ada yang salah dengan mencintai apa yang kamu kerjakan. Bagus kalau kamu bisa mendapatkannya. Tapi itu bukan prasyarat untuk menjadi terampil, ulet, membangun karier yang memuaskan, atau menciptakan sesuatu yang hebat. Agak tidak jujur bagi orang yang benar-benar sukses untuk terlalu menuhankan cinta, sama halnya tidak jujur bagi orang yang benar-benar kaya untuk bilang uang tidak penting. Manusia memang cenderung meromantisasi diri sendiri; mereka hanya menganggap apa yang penting hari ini dan melupakan apa yang benar-benar penting ketika memulai.

Yang benar adalah, keterampilan dan karya epik juga bisa muncul dari rasa frustrasi, bahkan rasa benci. Grab tidak lahir karena Anthony Tan kecanduan naik taksi. Itu lahir karena ia terlampau sering mendengar keluhan teman-temannya yang kesulitan mendapatkan taksi. HEY Mail tidak lahir karena Jason Fried sangat terobsesi menulis surel. Itu lahir karena ia jengkel kenapa semua layanan surel terasa merepotkan. Fathom Analytics tidak lahir karena Jack Ellis hobi melacak orang. Itu justru lahir karena ia marah pada banyak layanan analisis web yang menjual privasi pengguna.

Keterampilan yang aku miliki hari ini juga begitu. Aku belajar membuat web bukan karena aku mencintai pemrograman (saat itu aku baru mulai), aku belajar karena tidak puas dengan fitur bawaan platform. Satu platform bisa X dan Y tapi tidak pernah Z, yang lainnya bisa Y dan Z tapi tidak bisa X dengan baik. Jadi aku mencari tahu bagaimana cara merakit web sendiri agar bisa membuat fitur yang aku inginkan, menulis pos blog dengan cara yang aku merasa nyaman, menggunakan alat-alat yang aku bisa bilang, “beginilah seharusnya sebuah blog dibuat”.

Itu adalah situasi normal. Tidak ada yang aneh dengan itu. Aku hanya orang yang suka mendokumentasikan tulisan di internet, tapi tidak menemukan platform yang cocok, jadi aku membangun solusiku sendiri. Ini sama seperti orang-orang yang memodifikasi motornya. Tidak semuanya suka balap liar atau bahkan mengerti mesin, kadang sesederhana tidak puas dengan setelan pabrik.

Dan itu hal berulang dalam kasusku, termasuk ketika aku awal-awal belajar menulis. Aku tidak mencintai prosesnya. Belajar menulis itu menyakitkan. Ada lebih banyak perasaan frustrasi nyaris gila daripada rasa cinta. Lalu apa dorongan terbesarku belajar menulis? Karena aku tidak pandai komunikasi secara lisan, dan ketika tekstual dulunya aku sering terlibat salah paham. Aku kesal pada diri sendiri, jadi kupikir “sesuatu harus diperbaiki” dan karena alasan finansial, bagiku lebih murah belajar menulis daripada public speaking.

“Tapi bukankah itu sinting? Lagi pula siapa orang gila yang mau melakukan hal-hal yang bikin dia pusing?”

Hai halo, aku Gigip, dan aku melakukan hal-hal yang membuatku pusing.

Akhir April lalu aku menerbitkan 10 cerita pendek. Saat Nur Halipah bertanya dari mana motivasinya, kubilang cerpen-cerpen yang kutulis itu lahir dari rasa marah. Aku ingin mengejek banyak hal, tapi aku merasa sulit menulisnya dalam esai karena “sepertinya lebih baik disampaikan lewat cerita daripada opini” dan aku juga tidak ingin mengambil posisi yang menggurui. Aku tahu apa yang ingin aku bicarakan tapi aku tidak tahu bagaimana cara terbaik menyampaikannya. Jadi aku mengemasnya dalam cerpen.

Apakah aku senang? Ketika cerpennya selesai. Tidak ketika proses menulisnya. Itu adalah lingkaran setan—frustrasi yang disebabkan oleh frustrasi lainnya. Aku harus memikirkan banyak hal, belajar banyak hal, membaca banyak hal. Saat aku memulai, omong kosong jika aku bilang aku mencintai prosesnya. Yang paling jujur adalah kata-kata Margaret Atwood:

“Tidak ada yang memaksamu menulis. Kamu sendiri yang memilih itu, jadi berhentilah merengek dan selesaikan pekerjaanmu.”

Bahwa aku mencintai hasilnya, ya. Lambat laun aku mulai menikmati prosesnya, ya. Aku mulai terbiasa dan suka menulis, ya. Tapi perasaan itu muncul sendirinya seiring waktu, bukan momen yang aku tunggu saat aku ingin memulai.

Bagaimana dengan pemrograman? Setelah bertahun-tahun, apakah sekarang aku jadi mencintainya? Tidak selalu. Itu tetap membuatku garuk-garuk kepala. Tapi aku sadar aku menyukai hasilnya, aku menyukai perasaan yang muncul saat pekerjaanku selesai. Dan aku tahu, untuk mendapatkan perasaan itu, mau tidak mau aku harus melewati proses, dan yang lebih penting, aku harus memulai, betapa pun itu menyebalkan.

Itu tadi bagaimana caraku menguasai suatu bidang. Sekarang bagaimana caraku mengubahnya menjadi uang?


Pemrograman itu sulit. Dan akan jauh lebih sulit ketika bekerja untuk klien. Kami para pengembang dihadapkan pada banyak keputusan. Biru atau hijau? Satu atau dua? Statis atau dinamis? Jangan simpan atau hapus? Jika semua itu penting, kami akan bertanya—sisanya kami menduga. Dan semua keputusan itu akan menjadi semacam utang teknis, sebuah jaringan asumsi yang saling berkaitan.

Sebagai pengembang, aku benci itu. Aku benci mengetahui ada bom waktu skala kecil dalam tiap pilihan yang aku ambil. Tapi ketika membuat proyek open source, aku tidak mengalami penderitaan itu. Kami di ruang sumber terbuka punya mantra yang disebut “garuk gatalmu sendiri”. Karena kami membuat alat untuk diri sendiri, memecahkan masalah kami sendiri, kami tahu 90% keputusan yang harus kami buat. Kami adalah pengguna untuk aplikasi yang kami rancang.

Nah, sepengalamanku mengobrol dengan banyak teman yang ingin memulai bisnis, atau menjual sesuatu atau membuat sesuatu untuk dijual, salah satu hambatan terbesar mereka adalah tidak tahu apa yang harus dijual. Mereka merasa ide mereka tidak terlalu unik, sudah ada banyak kompetitor, jadi mereka tidak percaya diri dan akhirnya memeras otak untuk mencari sesuatu “yang belum ada”. Benarkah itu masalahnya? Mungkin bukan.

Yang lebih sering terjadi adalah, jika kamu tidak tahu apa yang harus dijual, itu karena kamu tidak tahu siapa target pembelimu. Misalnya, kamu merasa bisa menulis dan terampil berbahasa, tapi kamu ragu menyediakan jasa copywriting atau editing. Jika alasannya karena di luar sana sudah terlalu banyak jasa serupa, jawabannya tetap kamu tidak tahu siapa target pembelimu. Kamu berpikir orang-orang akan lebih percaya pada penyedia jasa yang sudah punya nama, jadi kamu tidak tahu siapa yang akan kamu sasar.

Banyak penulis fiksi yang bingung harus menulis cerita seperti apa agar tulisannya menjual. Pada saat yang sama, ada banyak penulis di platform digital yang memiliki pendapatan lumayan dari menulis cerita yang umum. Problemnya kamu tidak mau menulis cerita yang seperti mereka, bukan? Problemnya karena kamu pembaca buku-buku sastra, menggandrungi penulis-penulis sastra, jadi kamu hanya ingin menulis sastra. Jika benar demikian, lalu kenapa kamu tetap melempar tulisanmu di platform digital dan berharap penjualanmu selaris cerita-cerita yang umum? Kamu tidak salah. Masalahnya pembaca yang kamu kejar tidak berada di sana. Lagi pula saat kamu mencari cerita yang kamu suka, di mana kamu mencarinya? Dengan siapa kamu berbagi ceritanya?

Itu yang kumaksud orang sering tidak tahu siapa target yang mereka cari. Kalaupun tahu, mereka tidak tahu di mana harus mencarinya.

Saat aku ingin mulai jualan cerita pendek, dan Lintang Citra bertanya kenapa, kujawab tujuan utamaku adalah ingin hobiku bisa mendanai dirinya sendiri. Blog ini butuh uang untuk berjalan. Dari sekian banyak cara, aku memilih jualan cerita pendek. Jadi aku menerbitkan 10 cerita pendek di KaryaKarsa (karena butuh platform untuk mengelola transaksi) dengan harapan uangnya cukup untuk membiayai blog ini. Berhasil? Ya. Berhasil karena aku tahu ke mana harus menjual cerpennya. Sasaran utamaku adalah orang-orang yang bergabung ke buletinku. Aku jualan pada mereka, bukan pada pengguna KaryaKarsa. Jika aku menarget pengguna umum KaryaKarsa, cerita yang kutulis akan disesuaikan dengan jenis cerita yang paling laris di platform itu, berinteraksi dengan komunitasnya, dan melakukan banyak promosi secara intens—bukankah itu konsep dasar pemasaran?

Dengan menggaruk gatal sendiri, kamu akan lebih mudah memulai karena kamu sudah tahu apa masalahnya, dan ketika kamu menemukan solusinya, kamu bisa fokus pada intinya. Lalu ketika itu dijual, kamu juga sudah punya calon pembelinya (orang-orang yang punya masalah sama denganmu). Di mana mereka berada? Harusnya mereka adalah teman-teman dekatmu karena kalian berbagi preferensi yang sama. Bagaimana jika ada yang tidak menyukainya? Ya abaikan saja—itu hanya berarti mereka bukan targetmu. Fokus pada sasaranmu dan jangan pikirkan yang bukan. Setiap solusi punya pasarnya sendiri, kenapa memikirkan pasar orang?

Itu adalah prinsip yang aku gunakan ketika menyediakan jasa bikin web. Ada banyak cara, ada banyak opini, ada banyak pertimbangan dan pengorbanan. Aku punya cara dan pendapatku sendiri, jadi aku mencari orang-orang yang sependapat denganku. Misalnya, aku sudah lama meninggalkan WordPress. Jika kamu ingin jualan jasa bikin web dan tujuannya “hanya duduk menunggu telepon”, secara pasar, memilih WordPress bisa jadi jaminan. Tapi aku memilih alat lain dan apakah ada peminatnya? Ada. Karena ada banyak juga yang punya masalah sama denganku ketika bekerja dengan WordPress.

Ketika kamu menggaruk gatal sendiri, ketahuilah bahwa di luar sana ada ratusan orang lain yang juga mengalami gatal yang sama. Tidak perlu merasa “apa cuma gue?” karena jawabannya jelas, bukan cuma elu. Kamu bukan petapa yang mengasingkan diri di gua selama 100 tahun. Kita terhubung oleh keresahan yang sama, bedanya ada yang bisa menciptakan solusinya dan ada yang tidak.


Jadi, jika kamu sedang mencari keterampilan yang bisa menghasilkan uang, dan usiamu sekitar 20-an, kemungkinannya kamu sudah punya keterampilan itu. Maka saranku adalah mulailah membuat proyek sampingan dengan modal minimal dengan tujuan melihat ombak.

Proyek sampingan, yang didasari dengan menggaruk gatal sendiri, adalah cara yang bagus untuk eksplorasi tanpa dihantui rasa takut akan bangkrut. Dalam konteks bisnis rintisan, ini berarti kamu akan membuang apa pun yang tidak menghasilkan uang sejak hari pertama. Tidak ada “mencari tahu model pendapatan nanti” seperti kebanyakan bisnis yang didanai. Kamu akan membuat sesuatu yang berharga, sesuatu yang layak dibayar saat ini. Jika kamu memulai bisnis dan tidak punya model pendapatan yang konkret, kamu terlalu banyak baca dongeng di Quora. Cari tahu cara menghasilkan uang.

Yang terpenting, kerjakan sesuatu yang kamu tertarik secara intrinsik. Cinta bisa tumbuh (dan itu bagus jika tumbuh), tapi kamu tidak membutuhkannya di awal. Kamu bisa mulai dengan merasa jengkel pada masalah yang kamu belum menemukan solusi terbaiknya. Temukan itu dan mulailah dari sana.