Yang Lebih Terang dari Kembang Api

Gigip AndreasGigip Andreas / Jurnal | 10 menit dibaca

Anak itu, namanya Iyan, sudah lama hilang dan nyaris terhapus dari ingatan. Sebelum aku benar-benar melupakannya, persis seperti Trigorin si penyair dalam The Seagull karya Chekhov yang berkata “kulihat segumpal awan menyerupai seekor unta dan kupikir, harus kubikin jadi cerita”, saat aku tiba-tiba mengingat Iyan, aku merasa harus menulisnya.

Mari mundur ke tahun 2003, ketika aku kelas dua sekolah dasar. Saat itu setiap sore, setiap hari, setiap aku menonton kartun di kamar ibu, selalu ada sepasang mata yang mencuri intip dari luar jendela. Selalu begitu setiap hari dan setiap hari. Karena penasaran, aku jadi ingin menyapanya, tetapi nyaliku terlalu ciut.

Aku selalu bingung bagaimana cara memulai percakapan. Aku antisosial, introver akut. Orang sering menganggap aku kelewat cuek, padahal kepalaku kantor paling sibuk di dunia. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara membahasakan isi pikiran secara lisan. Pun tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap tanpa membuat orang merasa terganggu.

Satu waktu ibuku membuka rental Ding Dong (kamu bisa Google dengan kata kunci permainan arkade—kata arkade sendiri ada di KBBI, tetapi waktu itu kami menyebutnya Ding Dong). Ibu berbisnis dengan engkong-engkong Cina mahabaik yang akrab disapa Engkoh. Dia adalah alasan kenapa aku tidak percaya orang Cina identik pelit. Kami dipinjamkan dua mesin.

Ding Dong pada tahun itu tentu belum sebagus yang sekarang. Bentuknya masih sangat memakan tempat dan konsolnya jelek. Tetapi itu jenis permainan ramah biaya bagi anak seusia kami, terutama di daerahku yang rata-rata ekonominya semrawut. Bayangkan saja, satu jam PS 1 harganya 1.500 rupiah, 3.000 rupiah untuk PS 2. Ding Dong? Kamu bisa main sepuasnya selama nyawa di gim belum habis, hanya bermodal koin 100 rupiah (ya, koin yang ada gambar rumah panggung dan biasa dipakai buat kerokan itu).

Si pemilik sepasang mata yang sering mengintip ternyata suka main Ding Dong. Dia cukup jago, dia bisa duduk lebih lama dibanding anak yang lain. Dan dia lumayan dikenal. Anak-anak sering menyebut namanya, terutama ketika butuh bantuan saat bermain.

Aku akhirnya tahu namanya dari sana. Tetapi aku masih belum berani menyapanya, kendati ia juga masih sering numpang nonton—kali ini dari balik pintu di ruang tengah, tempat anak-anak main Ding Dong. Ini murni dugaan: kupikir saat itu dia sadar bahwa aku sadar, tetapi kami sama-sama memilih diam. Jadi aku merasa tidak harus mengajaknya masuk, cukup biarkan pintu kamar ibu terbuka separuh.

Itu selalu terulang setiap sore untuk waktu yang cukup lama. Kami masih tidak saling bicara. Tidak meskipun kami papasan di jalan atau sama-sama mengantre beli bakso di depan. Dahulu kupikir dia juga pemalu. Tetapi kalau kamu tanya sekarang, aku bisa bilang, orang tidak mau menyapaku karena aku tampak susah didekati, terlihat tidak peduli (yang satu ini pendapat Deri, teman main masa kecilku, yang baru berani dia ucapkan ketika kami sudah sama-sama punya KTP).

Suatu malam, menjelang tahun baru, ibu membelikanku kembang api versi bocah (yang panjangnya cuma setinggi sedotan dan lebarnya seukuran dua korek kuping). Semua anak laki-laki tahu cara menikmatinya: pegang dengan tangan kiri, nyalakan bagian atas, lalu lari sambil membayangkan kembang api itu adalah pedang dan dirimu prajurit perang.

Aku juga tahu. Bedanya, aku tidak berani turun ke medan. Jadi yang saat itu aku lakukan adalah menggantungkan kembang apinya di pagar, minta tolong ibu buat menyalakannya, dan aku menontonnya sambil jongkok dari jarak tiga meter. Dan semuanya bermula dari sini.

Rumahku dan Iyan cuma berjarak dua bangunan. Jika ada yang menyala di tempatku, itu bisa terlihat dengan jelas dari tempatnya. Saat itu mungkin dia tertarik. Aku tidak sadar sejak kapan dia ada, tiba-tiba saja aku mendengar dia bicara: Cepengan atuh, teu rame dikitukeun mah. (Pegang, dong, enggak seru kalau begitu.)

Aku refleks menunjukkan gigi sambil menggelengkan kepala. Dia lalu berjalan mendekati pagar, mengambil kembang api yang masih menyala dan menatapku. Seolah-olah dia ingin bilang “tuh, enggak apa-apa, kan?”

Hal yang terjadi selanjutnya, aku menyodorkan bungkus kembang api kepadanya. Dia mengambil satu, aku juga. Dia menyalakan miliknya, aku mencoba. Dan berhasil. Ternyata rasanya menyenangkan. Meskipun aku tidak yakin mana yang menjadi sebabnya: berhasil melawan rasa takut atau punya teman baru.

Malam itu kami berlari sambil mengangkat kembang api tinggi-tinggi. Kembang api kecil kami bahkan terlihat lebih terang dari apa pun; dari lampu-lampu jalan maupun bintang-bintang.


Kalau aku tidak salah ingat, Iyan putus sekolah sejak kelas empat. Usia kami terpaut dua tahun. Jadi saat itu, setiap aku pulang sekolah, dia sudah tidak sekolah. Dia selalu ada dan siap bermain.

Satu-satunya tempat belajar gratis di daerahku cuma pengajian. Kupikir itu alasan kenapa Iyan selalu semangat pergi mengaji. Aku pindah dari Al-Hidayah ke Al-Latif agar bisa mengaji bersamanya. Aku juga belajar dengan giat agar bisa segera pindah dari kelompok Iqra ke Al-Qur’an, ke kelompok Iyan.

Di luar pengajian, kami sering main bersama. Main apa pun. Kadang main bola di parkiran Tanisugih setelah tutup. Kadang main toktak (badminton versi raket terbuat dari tripleks) di depan rumah. Tetapi yang paling sering kami cuma duduk di teras, membicarakan berbagai hal yang saat itu terdengar sangat menyenangkan.

Iyan suka bercerita. Sangat pas dengan aku yang suka mendengarkan. Dalam banyak kesempatan, sebenarnya dia juga banyak mengajariku tentang berbagai macam persoalan, secara langsung maupun tidak.

Maju cepat ke tahun 2008, aku masuk SMP. Tidak banyak yang berubah. Kami masih mengaji dan masih sering bermain.

“Wah, kamu satu sekolah sama Elisa sekarang?”

Iyan tanya begitu setelah Elisa menyapaku ketika aku dan Iyan berjalan melewati rumahnya. Elisa duduk di pagar, dia tanya, “Eh, kamu, kamu masuk 6, ‘kan?”

Aku cuma menjawab iya. Itu menjadi percakapan pertamaku dengannya. Percakapan kedua tidak pernah ada.

Elisa adalah tetangga kami, anak orang kaya, bapaknya entah polisi atau tentara, dan dia tidak tersentuh. Bukan karena pekerjaan bapaknya atau status sosialnya, lebih karena dia terkenal galak—koreksi, dia tegas. Aku tidak kaget saat tahu dia menjadi anggota OSIS.

“Gimana dia di sekolah?” tanya Iyan lagi.

“Enggak tahu. Enggak sekelas.” (Aku dan Elisa akhirnya sekelas di kelas dua, tidak pernah mengobrol sama sekali.)

“Desi juga masuk 6 katanya?”

“Iya. Tahu gini aku masuk 40 bareng Deri.”

Bukan apa-apa, masalahnya, Desi tahu betul siapa aku. Kami juga mengaji di tempat yang sama. Kami memang hampir tidak pernah mengobrol, tetapi karena satu daerah, Desi pasti tahu siapa aku. Aku cuma tidak ingin anak-anak di SMP tahu siapa diriku (anak cengeng yang gampang menangis; anak manja yang sedikit-sedikit memanggil ibunya setiap terjadi sesuatu) dari Desi.

“Tapi, gimana ya, harusnya bersyukur aja masih bisa sekolah.”

Aku tidak menjawab. Tetapi aku menyadari satu hal. Mungkin, Iyan bertanya apakah aku satu sekolah dengan Desi dan Elisa adalah cara lain dari bilang: “Pasti menyenangkan, ya, satu sekolah dengan orang-orang yang kita kenal.”

Sejujurnya, kehidupan di SMP tidak terasa menyenangkan sampai aku naik kelas dua. Saat itu aku punya kenalan dari saudaraku, seorang perempuan di sekolah lain. Dia kelas tiga, tetapi dia bilang kami seumuran karena dia masuk sekolah setahun lebih dini.

Adegan selanjutnya bisa ditebak: aku jadi jarang keluar rumah, lebih banyak menghabiskan waktu di Facebook untuk mengobrol dengan perempuan itu. (Aku tidak enak menyebut namanya karena dia sudah menikah Agustus kemarin.)

Iyan tahu. Aku sempat bercerita beberapa kali. Aku juga mengunduh foto-fotonya dari Facebook dan kusimpan di satu folder khusus di komputer. Aku benar-benar terobsesi.

Tetapi aku tidak pernah sempat menyatakan perasaan karena mentalku keburu merosot setelah mendapat pesan dari kakaknya. Intinya, saat itu dia tidak suka jika ada laki-laki lain yang mendekati adiknya. Kabar baiknya, aku mulai dekat dengan perempuan lain di sekolah, anak kelas 8.1.

Berita buruknya, aku berhenti pergi mengaji. Kehidupanku berputar beberapa derajat. Aku mulai banyak punya PR dan sering main di rumah teman SMP sampai pukul delapan malam. Hal lain yang berubah, aku mulai jarang bertemu Iyan.

Lama-lama kami berhenti berbicara. Tidak jelas bagaimana awalnya, tetapi sekali waktu pernah, ketika kami hendak papasan di jalan, dia memalingkan wajahnya dan tiba-tiba putar arah. Seakan-akan dia ingin menghindariku. Aku yang semula ingin memanggilnya jadi urung dan bertanya-tanya kenapa.

Satu bulan. Dua bulan. Tiga, empat, lima, delapan. Kami berhenti berteman. Aku sudah jadi anak kelas tiga dan dia menghilang.

Suatu malam, sepulang dari warnet, aku bertemu Amat, anak bawang yang dahulu sering mengikuti aku dan Iyan. Dia bilang, “Tahu enggak kenapa Iyan menjauh?”

Aku diam.

“Soalnya kamu jadi jarang main.”

Aku masih diam.

“Iyan bilang kamu punya teman baru. Jadi lupa sama teman lama.”

Kata-kata itu menamparku.

Setibanya di rumah, aku mengingat bagaimana waktu Iyan datang kepadaku, ketika aku tidak punya banyak teman. Bagaimana Iyan memberanikan dirinya menyapaku, ketika orang lain memilih abai. Aku merasa bersalah.

2014 Iyan pindah. Rumahnya digusur proyek pembangunan hotel Aston. Pengajian bubar karena rumah guru-guru kami ikut tergusur. Rumah orang tuaku juga dijual. Kami akhirnya tinggal di bekas rumah Elisa untuk sementara (keluarga dia sudah pindah sejak lama—terakhir kudengar dari ibu, Elisa jadi polwan atau apalah).

Sebelum akhirnya kami pindah lagi, aku mendapat kabar adik perempuan Iyan menikah. Aku tidak terlalu peduli, tetapi aku jadi teringat pada Iyan.

Waktu itu, aku sempat kepikiran, bakal seperti apa situasinya jika aku dan Iyan masih berteman. Dia pasti akan tetap mengajariku banyak hal: cara menyelinap ke kamar gadis yang ibu indekosnya kelewat waspada, teknik jitu merawat ikan cupang yang dijamin menang saat diadu, bahaya laten pergerakan Illuminati, manfaat pare bagi tubuh dan kenapa itu harus ada di bakso tahu, langkah-langkah membeli kondom di Indomaret.

Aku juga membayangkan kami sudah sama-sama cukup usia untuk mengumpat dengan elegan sambil berbagi keluh kesah seputar kehidupan orang dewasa. Aku mungkin akan memboncengnya ke Jayagiri, lalu kami duduk di salah satu warung di tengah dingin sambil makan jagung rebus dan mulai mentertawakan dunia bersama-sama.

Menyedihkan. Aku menghentikan khayalan setelah sadar bahwa berkhayal adalah keahlian terakhir yang dimiliki oleh orang-orang kesepian.


Tidak pernah ada yang bertanya kepadaku tetapi aku akan tetap menjawabnya: kalaupun sekarang kami bertemu, jujur saja aku tidak tahu harus berkata apa. Mentok-mentok cuma bisa basa-basi dan nostalgia. Waktu sudah berjalan terlalu lama, gap antara perasaan rindu dan perasaan bersalah di antara kami sudah terlampau jauh.

Dibilang menyesal tentu aku menyesal. Tetapi mau merutuk sepanjang hari pun tidak akan mengubah fakta bahwa kami cuma dua anak yang pernah dan hampir. Malah kupikir, mungkin memang sudah seharusnya seperti ini. Mungkin ini yang terbaik.

Agak lucu sebenarnya bagaimana ingatan ini muncul pada penghujung Desember. Semua berakhir seperti bagaimana semua bermula: kembang api. Kembang api adalah benda yang kamu nyalakan karena senang melihatnya bersinar, tetapi akan langsung kamu buang sesaat setelah padam.

Kebodohanku pada masa lalu adalah meninggalkan seorang teman hanya karena aku melihat sesuatu yang lebih terang. Dari sana aku belajar, mengenang seseorang yang telah lama hilang terkadang menyesakkan, meskipun mungkin sedikit menyenangkan. Seperti menyaksikan bintang-bintang, kalau kata Aan Mansyur.

“Pada malam hari, saya selalu senang mengamati bintang-bintang. Saya menyukai peristiwa itu karena tubuh saya mengalami masa lalu dan masa depan secara serentak. Kaki saya berdiri di masa kini, tetapi mata saya mengalami masa lalu. Ketika cahaya bintang menyentuh mata saya, bintang tersebut sesungguhnya sudah lama tiada.”

Aku memang tidak punya kata-kata untuk diucapkan kepada Iyan, tetapi mataku bisa melihat dia dengan lebih jelas sekarang. Dia bintang, yang lebih terang dari kembang api.

Gabung buletin

Dapatkan akses awal setiap ada tulisan baru